Bandung, dejikcom- Harga kebutuhan terus menjadi perhatian, sementara pengeluaran bulanan seperti makan, transportasi, listrik, dan tempat tinggal sulit dihindari. Di tengah kondisi ekonomi seperti ini, mengatur uang bukan lagi sekadar kebiasaan baik, melainkan keterampilan penting untuk bertahan sampai akhir bulan.

Istilah “in this economy” belakangan sering digunakan sebagai ungkapan satir untuk menggambarkan kondisi ketika harga kebutuhan terasa semakin mahal, sedangkan penghasilan tidak selalu bertambah secepat pengeluaran.

Namun, hidup hemat bukan berarti harus berhenti menikmati hidup. Kuncinya adalah mengetahui ke mana uang pergi, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mencari cara agar penghasilan yang ada bisa digunakan dengan lebih efektif.

Berikut tujuh tips irit yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Terapkan Aturan 24 Jam Sebelum Belanja

Pernah melihat barang lucu di marketplace, langsung membelinya, lalu menyesal beberapa hari kemudian?

Pembelian impulsif seperti ini sering membuat pengeluaran membengkak tanpa disadari. Apalagi jika ada diskon, gratis ongkir, atau promosi dengan batas waktu tertentu.

Cobalah menerapkan aturan 24 jam. Saat ingin membeli barang yang bukan kebutuhan mendesak, tunda keputusan selama satu hari. Jika setelah itu barang tersebut masih dibutuhkan dan sesuai anggaran, barulah pertimbangkan untuk membelinya.

Untuk barang mahal, waktu berpikirnya bisa diperpanjang menjadi beberapa hari atau minggu.

Tips tambahan: Hapus barang yang tidak benar-benar dibutuhkan dari keranjang belanja dan matikan notifikasi promosi yang sering memancing keinginan belanja.

2. Bawa Bekal, Bukan Berarti Harus Jadi Anak Kos

Makan di luar memang praktis, tetapi pengeluaran kecil yang berulang bisa menjadi besar jika dikumpulkan selama sebulan.

Misalnya, membeli makan siang Rp30.000 selama 22 hari kerja membutuhkan Rp660.000 per bulan. Jika sebagian hari diganti dengan bekal dari rumah seharga Rp15.000, pengeluarannya bisa berkurang cukup signifikan.

Tidak perlu langsung membawa bekal setiap hari. Mulailah dari dua atau tiga hari kerja dalam seminggu.

Pilih menu sederhana yang mudah disiapkan, seperti nasi dengan telur, tumis sayuran, ayam suwir, atau lauk yang dimasak sekaligus untuk beberapa kali makan.

Dengan perencanaan yang tepat, membawa bekal bukan hanya menghemat uang, tetapi juga mengurangi kebiasaan membeli makanan secara spontan.

3. Jangan Tertipu Diskon dan Gratis Ongkir

Barang diskon belum tentu membuat pengeluaran lebih hemat.

Jika membeli barang seharga Rp100.000 yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya karena diskon 50 persen, uang Rp50.000 tetap keluar untuk sesuatu yang tidak direncanakan.

Begitu pula dengan promo gratis ongkir yang mendorong pembelian tambahan agar memenuhi batas minimum transaksi.

Sebelum membeli, tanyakan tiga hal kepada diri sendiri:

  • Apakah barang ini memang dibutuhkan?
  • Apakah saya akan membelinya jika tidak ada diskon?
  • Apakah harganya benar-benar lebih murah dibandingkan alternatif lain?

Jika jawabannya tidak meyakinkan, lebih baik menunda transaksi.

Ingat, tujuan berhemat bukan mendapatkan diskon sebanyak-banyaknya, melainkan mengurangi uang yang keluar untuk kebutuhan yang tidak penting.

4. Audit Langganan Digital yang Jarang Dipakai

Coba periksa rekening atau riwayat transaksi selama satu bulan terakhir. Bisa jadi ada biaya langganan yang terus berjalan meskipun jarang digunakan.

Contohnya layanan streaming, aplikasi premium, penyimpanan awan, keanggotaan gim, hingga aplikasi produktivitas.

Langganan Rp50.000 per bulan terlihat kecil. Namun, jika ada empat layanan dengan biaya serupa, totalnya mencapai Rp200.000 per bulan atau Rp2,4 juta per tahun.

Bukan berarti semua langganan harus dihentikan. Pertahankan layanan yang benar-benar digunakan dan memberikan manfaat sepadan dengan biayanya.

Untuk layanan hiburan, pertimbangkan sistem bergantian. Misalnya, berlangganan satu platform selama sebulan, kemudian beralih ke platform lain jika memang diperlukan.

5. Ubah Cara Nongkrong, Bukan Pertemanan

Hemat bukan berarti harus menghilang dari pergaulan.

Masalahnya, ajakan nongkrong yang berulang bisa menghabiskan uang jika setiap pertemuan selalu dilakukan di kafe mahal, restoran, atau tempat hiburan dengan biaya tambahan.

Solusinya bukan menolak semua ajakan, melainkan memilih aktivitas yang lebih ramah di kantong.

Sesekali, ajak teman berjalan santai di taman, menikmati ruang publik, memasak bersama, atau mencari tempat makan dengan harga yang lebih terjangkau.

Jika tetap ingin ke kafe, tentukan anggaran sebelum berangkat. Misalnya, maksimal Rp50.000 untuk satu kali nongkrong.

Kamu tetap bisa menikmati waktu bersama teman tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain hanya demi mengikuti gaya hidup kelompok.

6. Pisahkan Uang Begitu Gajian

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menggunakan uang selama sebulan tanpa pembagian yang jelas. Akibatnya, ketika mendekati tanggal gajian berikutnya, saldo rekening sudah menipis.

Cobalah membagi penghasilan sejak hari pertama diterima.

Urutkan prioritasnya menjadi:

  1. Kebutuhan pokok, tempat tinggal, dan transportasi.
  2. Tagihan serta kewajiban utang.
  3. Tabungan atau dana darurat sesuai kemampuan.
  4. Hiburan, nongkrong, dan belanja pribadi.

Tidak ada satu persentase pembagian yang cocok untuk semua orang. Jika biaya hidup sedang tinggi, kebutuhan pokok mungkin menyerap sebagian besar penghasilan. Tidak perlu memaksakan aturan anggaran tertentu sampai kebutuhan dasar justru terganggu.

Yang terpenting, sisihkan uang untuk tujuan keuangan jika memungkinkan, meskipun nominalnya kecil. Jika penghasilan belum cukup untuk kebutuhan dasar, fokus pertama adalah menjaga arus kas dan mencari cara menambah pemasukan.

7. Cari Penghasilan Tambahan dari Skill yang Sudah Dimiliki

Ada batas seberapa banyak pengeluaran bisa dipangkas. Jika semua kebutuhan sudah ditekan tetapi uang masih kurang, mencari penghasilan tambahan dapat menjadi langkah berikutnya.

Tidak harus langsung membuka bisnis dengan modal besar. Mulailah dari kemampuan yang sudah dimiliki.

Misalnya, menawarkan jasa menulis artikel, desain sederhana, mengedit video, membuat konten media sosial, menjadi pengisi suara, atau membantu usaha kecil mengelola akun digital.

Pilih pekerjaan sampingan yang tidak membutuhkan investasi besar di awal dan tetap sesuai dengan waktu serta kemampuan.

Namun, tetap waspada terhadap tawaran pekerjaan yang meminta biaya pendaftaran, menjanjikan keuntungan tidak masuk akal, atau mengharuskan transfer uang sebelum pekerjaan dimulai.

Penghasilan tambahan memang tidak selalu langsung datang, tetapi membangun satu keterampilan yang bisa dijual berpotensi memberikan manfaat jangka panjang.

Bonus: Tantangan Hemat 7 Hari

Kalau tujuh tips di atas terasa terlalu banyak untuk langsung diterapkan, mulailah dengan tantangan sederhana selama satu minggu.

Hari 1: Catat semua pengeluaran.

Hari 2: Tidak membeli barang di luar kebutuhan.

Hari 3: Membawa bekal atau menyiapkan makanan sendiri.

Hari 4: Memeriksa langganan digital.

Hari 5: Mengurangi satu pengeluaran yang tidak penting.

Hari 6: Mencari satu peluang penghasilan tambahan dari keterampilan sendiri.

Hari 7: Evaluasi pengeluaran dan tentukan target hemat untuk minggu berikutnya.

Setelah tujuh hari, lihat perubahan yang terjadi. Tidak perlu mengejar penghematan besar dalam waktu singkat. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membangun kondisi keuangan yang lebih terkontrol.

Penutup: Hemat Itu Strategi, Bukan Gengsi

Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut kita lebih berhati-hati, hidup hemat bukan berarti harus berhenti bersenang-senang atau merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang.

Tujuannya adalah memastikan uang digunakan untuk hal-hal yang benar-benar penting dan memberikan manfaat.

Kurangi pembelian impulsif, atur anggaran, pertahankan hiburan yang sesuai kemampuan, dan tingkatkan penghasilan jika memungkinkan.

Sebab, dalam kondisi “in this economy”, menjadi pintar mengelola uang bukan soal siapa yang paling pelit, melainkan siapa yang paling mampu membuat uangnya bertahan dan bekerja sesuai kebutuhan.

By farisi