Jakarta, dejik.com – Mengapa manusia bisa mengingat pengalaman masa lalu, belajar keterampilan baru, merasakan emosi, hingga mengambil keputusan? Berbagai pertanyaan tersebut menjadi bagian dari hal yang dipelajari dalam neurosains, bidang ilmu yang berusaha memahami otak dan sistem saraf manusia.
Neurosains tidak hanya berbicara tentang penyakit otak. Ilmu ini juga membantu menjelaskan bagaimana manusia berpikir, belajar, tidur, mengingat sesuatu, merasakan emosi, hingga merespons lingkungan.
Menariknya, semakin banyak penelitian dilakukan, semakin kompleks pula rahasia otak manusia yang ditemukan.
Berikut tujuh fakta menarik tentang neurosains dan otak manusia yang mungkin belum banyak diketahui.
1. Otak Hanya Sebagian Kecil dari Berat Tubuh, tetapi Sangat Boros Energi
Otak manusia memiliki berat sekitar 1,5 kilogram atau kira-kira 2 persen dari berat tubuh. Namun, organ ini menggunakan sekitar 20 persen energi dan oksigen tubuh.
Energi tersebut dibutuhkan untuk menjaga aktivitas sel saraf sekaligus mengirimkan berbagai sinyal listrik dan kimia di dalam jaringan otak.

Artinya, meski ukurannya relatif kecil dibandingkan keseluruhan tubuh, otak merupakan salah satu organ dengan kebutuhan energi yang sangat besar.
Bahkan ketika seseorang sedang tidur, otak tidak benar-benar berhenti bekerja.
2. Otak Manusia Memiliki Sekitar 100 Miliar Neuron
Salah satu fakta paling menarik dalam neurosains adalah jumlah sel saraf yang terdapat di dalam otak.
Otak manusia diperkirakan memiliki sekitar 100 miliar neuron, yaitu sel khusus yang berperan dalam menerima dan mengirimkan informasi. Selain neuron, terdapat pula sel pendukung yang jumlahnya sangat besar dan membantu menjaga lingkungan tempat neuron bekerja.

Neuron saling berkomunikasi melalui jaringan yang sangat kompleks. Informasi dapat berpindah melalui sinyal listrik maupun zat kimia yang disebut neurotransmiter.
Jaringan inilah yang memungkinkan manusia melakukan berbagai aktivitas, mulai dari menggerakkan tangan hingga mengingat nama seseorang.
3. Otak Bisa Berubah Sepanjang Hidup
Dulu, otak sering dianggap sebagai organ yang perkembangannya berhenti setelah seseorang melewati masa pertumbuhan. Neurosains modern menunjukkan gambaran yang jauh lebih menarik.
Otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mengubah hubungan antarsel saraf. Kemampuan tersebut dikenal sebagai neuroplastisitas atau plastisitas otak.

Ketika seseorang mempelajari sesuatu secara berulang, hubungan tertentu antarneuron dapat diperkuat. Sebaliknya, hubungan yang jarang digunakan dapat melemah.
Karena itu, belajar memainkan alat musik, mempelajari bahasa baru atau melatih keterampilan tertentu bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan perubahan pada jaringan otak.
4. Tidur Bukan Berarti Otak Benar-Benar Beristirahat
Saat tubuh tertidur, aktivitas otak tetap berlangsung.
Tidur justru memiliki peran penting dalam berbagai fungsi otak, termasuk proses belajar dan pembentukan memori. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas otak selama tidur berkaitan dengan proses yang membantu mengolah pengalaman dan informasi yang diperoleh ketika seseorang terjaga.

Pada fase tertentu, terutama tidur REM, aktivitas otak dapat menjadi sangat aktif dan mimpi sering terjadi.
Jadi, tidur bukan sekadar waktu untuk memejamkan mata. Bagi otak, tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan dan pengolahan informasi.
5. Otak Tidak Memiliki Reseptor Nyeri Seperti Kulit
Ini merupakan salah satu fakta yang terdengar mengejutkan.
Otak sendiri tidak memiliki reseptor nyeri seperti yang terdapat pada banyak jaringan tubuh. Karena itu, rasa sakit yang disebut sebagai “sakit kepala” sebenarnya bukan berasal dari jaringan otak itu sendiri.

Sinyal nyeri pada sakit kepala dapat berasal dari struktur di sekitar otak, seperti pembuluh darah, selaput otak, saraf dan jaringan lainnya.
Fakta ini juga menjadi salah satu alasan mengapa prosedur tertentu pada otak dapat dilakukan dengan pasien tetap sadar dalam kondisi medis tertentu.
6. Neurosains Tidak Hanya Mempelajari Otak
Mendengar kata neurosains, banyak orang langsung membayangkan otak. Padahal cakupannya jauh lebih luas.
Neurosains mempelajari sistem saraf, termasuk bagaimana otak berhubungan dengan sumsum tulang belakang dan jaringan saraf di seluruh tubuh.

Bidang ini juga berkaitan dengan berbagai fungsi manusia, seperti gerakan, keseimbangan, emosi, pembelajaran, memori, tidur, pernapasan, detak jantung hingga respons tubuh terhadap stres.
Karena cakupannya luas, neurosains bersinggungan dengan banyak bidang lain, seperti psikologi, kedokteran, biologi, ilmu komputer dan bahkan kecerdasan buatan.
7. Semakin Banyak Dipelajari, Semakin Banyak Pertanyaan Baru
Mungkin ini merupakan fakta paling menarik dari neurosains.
Para ilmuwan sudah memahami banyak hal tentang struktur dan fungsi otak, tetapi masih banyak misteri yang belum sepenuhnya terjawab.
Bagaimana tepatnya kesadaran muncul? Bagaimana otak menyimpan kenangan? Mengapa seseorang bisa memiliki pengalaman emosional yang berbeda terhadap peristiwa yang sama? Bagaimana mimpi terbentuk?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa otak manusia masih menjadi salah satu objek penelitian paling kompleks.
Neurosains terus berkembang dengan bantuan teknologi seperti pencitraan otak, rekaman aktivitas saraf dan berbagai metode penelitian lainnya. Semakin maju teknologinya, semakin banyak pula detail tentang cara kerja sistem saraf yang dapat dipelajari.
Pada akhirnya, mempelajari neurosains bukan hanya tentang memahami otak sebagai sebuah organ.
Ilmu ini juga membantu manusia memahami bagaimana kita belajar, mengingat, mengambil keputusan, merasakan emosi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Tujuh fakta tersebut baru sebagian kecil dari luasnya dunia neurosains. Di balik setiap pikiran, gerakan dan pengalaman manusia, terdapat jaringan saraf yang bekerja sangat kompleks dan terus beradaptasi.
Mungkin itulah yang membuat otak manusia tetap menjadi salah satu misteri terbesar dalam ilmu pengetahuan.