Jakarta – dejikcom, Krakatau bukan sekadar nama gunung api yang terkenal karena letusannya pada 1883. Di tengah Selat Sunda, kawasan ini terus berubah dan menjadi salah satu contoh bagaimana gunung api bisa “membangun” tubuhnya kembali setelah mengalami kehancuran besar.
Menariknya, kabar tentang Krakatau kembali menjadi perhatian pada September 2026 setelah Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Berikut tujuh fakta menarik yang perlu diketahui.
1. Letusan Krakatau 1883 begitu dahsyat hingga memicu tsunami besar
Letusan Krakatau pada 1883 merupakan salah satu letusan gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah modern.
Ledakan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh kompleks Krakatau dan membentuk kaldera bawah laut. Material vulkanik serta runtuhan tubuh gunung yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami.
Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM, tsunami akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai sekitar 40 meter dan korban tewas tercatat 36.417 orang.
Dampaknya juga terasa jauh dari Selat Sunda. Gelombang tsunami tercatat menjalar hingga wilayah pesisir yang sangat jauh dari pusat letusan.
Yang menarik: bencana Krakatau bukan hanya soal ledakan. Kombinasi letusan, runtuhan tubuh gunung, dan interaksi dengan laut membuat dampaknya menjadi sangat besar.
2. Krakatau sebenarnya tidak benar-benar “hilang”
Ada anggapan bahwa Gunung Krakatau lenyap sepenuhnya setelah letusan 1883. Faktanya tidak demikian.
Sebagian tubuh kompleks Krakatau masih tersisa. Kawasan tersebut kemudian membentuk lanskap berupa pulau-pulau yang berada di sekitar kaldera, termasuk Rakata, Sertung, dan Panjang.
Badan Geologi mencatat bahwa letusan 1883 menghancurkan Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata. Peristiwa tersebut membentuk cekungan kaldera di bawah laut Selat Sunda dengan lebar sekitar 7 kilometer dan kedalaman sekitar 250 meter.
Jadi, istilah “Krakatau” hari ini sebenarnya berkaitan dengan kompleks gunung api, bukan hanya satu kerucut gunung.
3. Anak Krakatau lahir dari kawasan yang hancur pada 1883
Inilah salah satu fakta paling menarik.
Setelah kehancuran besar pada 1883, aktivitas vulkanik tidak berhenti. Gunung api baru kemudian tumbuh di dalam kawasan kaldera Krakatau.
PVMBG mencatat aktivitas erupsi pascapembentukan Anak Krakatau mulai pada 1927, ketika tubuh gunung masih berada di bawah permukaan laut. Gunung tersebut kemudian muncul ke permukaan laut pada 1929.
Dengan kata lain, Anak Krakatau memang bisa disebut sebagai “anak” dari kompleks Krakatau secara geologiโtetapi bukan berarti ia merupakan gunung yang sama persis dengan Krakatau 1883.
Sejak muncul ke permukaan, Anak Krakatau terus mengalami proses pertumbuhan melalui aktivitas vulkanik.
4. Anak Krakatau masih dalam fase “membangun tubuhnya”
Gunung api pada dasarnya dapat mengalami proses membangun dan menghancurkan tubuhnya sendiri.
Anak Krakatau merupakan contoh yang sangat jelas. Setelah muncul dari laut, berbagai erupsi menghasilkan material baru yang menambah tubuh gunung.
PVMBG menyebut Anak Krakatau masih berada dalam fase konstruksi, yakni fase ketika gunung terus membangun tubuhnya akibat aktivitas vulkanik.
Karena itu bentuk dan ketinggian Anak Krakatau bukan sesuatu yang benar-benar permanen. Erupsi dapat menambah material, sementara letusan eksplosif atau longsoran dapat kembali mengurangi bagian tubuhnya.
Inilah yang membuat bentuk Anak Krakatau dari tahun ke tahun dapat berubah.
5. Tahun 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh dan memicu tsunami
Jika letusan 1883 merupakan sejarah terbesar Krakatau, maka 2018 menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Anak Krakatau.
Pada Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut ketika gunung tersebut sedang aktif. Peristiwa ini memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung.
Badan Geologi mencatat korban meninggal akibat tsunami tersebut sekitar 450 orang.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa bahaya gunung api di kawasan kepulauan tidak selalu datang dalam bentuk awan panas atau hujan abu. Runtuhan material gunung api ke laut juga dapat menjadi sumber tsunami.
6. September 2026, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi menerus sekitar 25 jam
Ini merupakan fakta paling aktual.
PVMBG melaporkan episode erupsi menerus Anak Krakatau mulai tercatat pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berhenti pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIBโberlangsung sekitar 25 jam.
Setelah itu, pada 6 September pukul 03.53 WIB, kembali tercatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian dengan durasi sekitar 30 detik.
Meski episode erupsi menerus telah berhenti, PVMBG menegaskan aktivitas vulkanik masih dinamis. Potensi letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi.
Karena itu, status Gunung Anak Krakatau tetap Level III (Siaga) dan masyarakat maupun wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
7. Abu vulkanik Anak Krakatau kini dipantau hingga puluhan ribu kaki
Erupsi Anak Krakatau bukan hanya menjadi perhatian masyarakat di sekitar Selat Sunda. BMKG juga memantau dampaknya terhadap atmosfer dan penerbangan.
Dalam analisis citra satelit pada 6 September 2026 pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, sebaran abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.
BMKG juga telah menerbitkan 18 SIGMET untuk mendukung keselamatan penerbangan. Beberapa bandara bahkan mengalami penutupan sementara pada waktu yang berbeda sebagai dampak sebaran abu vulkanik.
Menariknya, hingga pukul 07.00 WIB pada 6 September, 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan anomali muka air laut. BMKG juga menyebut analisis HF Radar di Carita dan Tanjung Lesung menunjukkan probabilitas tsunami saat itu berada pada tingkat rendah, di bawah 40 persen.
Kondisi Anak Krakatau Terbaru: Masih Siaga
Jadi, apakah Anak Krakatau sedang berbahaya?
Ya, aktivitasnya masih perlu diwaspadai. Namun status resmi saat ini adalah Level III (Siaga), bukan berarti seluruh wilayah Banten dan Lampung harus panik atau mengungsi.
PVMBG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan lembaga terkait.
BMKG sendiri terus melakukan pemantauan 24 jam terhadap abu vulkanik, kondisi atmosfer, penerbangan, serta laut di sekitar Selat Sunda.
Catatan penting: kondisi gunung api dapat berubah cepat. Untuk informasi terbaru, rujukan utama adalah BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan BPBD setempat, bukan video atau pesan berantai yang belum terverifikasi.
Dari tujuh fakta di atas, ada satu benang merah yang menarik: Krakatau bukan cerita tentang satu letusan di masa lalu. Kawasan ini masih aktif dan terus berubah.
Krakatau 1883 meninggalkan kaldera, Anak Krakatau kemudian tumbuh di dalamnya, mengalami berbagai erupsi, sempat kehilangan sebagian tubuhnya pada 2018, dan kini kembali menunjukkan aktivitas signifikan pada September 2026.
Sumber utama: BMKG dan PVMBG/Badan Geologi Kementerian ESDM, dengan pembaruan situasi per 6 September 2026.