Image

Ada Perasaan Aneh Saat Pertama Kali Tiba di Estonia

Ada satu perasaan yang sulit dijelaskan ketika perjalanan membawa saya begitu jauh dari Indonesia.

Saya terbiasa dengan udara tropis, panas yang menyambut sejak keluar rumah, suara kendaraan, pedagang, percakapan orang-orang, dan kehidupan kota yang hampir tidak pernah benar-benar berhenti.

Tetapi kali ini berbeda.

Saya berada di Estonia.

Sebuah negara kecil di kawasan Baltik yang sebelumnya mungkin tidak terlalu sering muncul dalam daftar tujuan wisata orang Indonesia. Nama Estonia memang tidak sepopuler Prancis, Italia atau Inggris. Namun justru karena itu, perjalanan ke negara ini terasa seperti menemukan sebuah cerita yang belum terlalu banyak diceritakan.

Begitu berada di Tallinn, ibu kota Estonia, saya mulai menyadari bahwa perjalanan kali ini bukan sekadar soal mengunjungi tempat baru.

Ada sesuatu yang membuat saya ingin berjalan lebih pelan.


Tallinn Menyambut dengan Udara yang Berbeda

Image

Setelah perjalanan panjang dari Indonesia, hal pertama yang terasa adalah udara.

Bagi saya yang datang dari negara tropis, udara Estonia memberikan sensasi yang berbeda. Jaket menjadi teman perjalanan yang tidak boleh dilupakan.

Saya berjalan sambil mencoba menyesuaikan diri dengan suasana kota.

Tidak lama kemudian, Tallinn mulai memperlihatkan wajahnya.

Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan dengan kafe, restoran, toko, dan kehidupan modern. Orang-orang berjalan dengan ritme mereka masing-masing. Tidak ada kesan kota sedang terburu-buru.

Saya sendiri masih membawa kebiasaan sebagai traveler Indonesia: ingin melihat banyak tempat, mengambil foto sebanyak mungkin, dan memastikan tidak ada sudut kota yang terlewat.

Tetapi Tallinn seperti punya cara sendiri untuk mengatakan:

Pelan-pelan saja.

Dan saya mulai menurutinya.


Memasuki Tallinn Old Town, Rasanya Seperti Masuk ke Masa Lalu

Image

Ada satu tempat yang membuat saya benar-benar merasa sedang berada di dunia yang berbeda: Tallinn Old Town.

Begitu menyusuri jalan berbatu di kawasan ini, perhatian saya langsung tertuju pada bangunan-bangunan tua yang mengelilingi jalan.

Saya berjalan tanpa tujuan yang terlalu jelas.

Kadang berhenti untuk mengambil foto. Kadang hanya melihat ke atas, memperhatikan menara dan fasad bangunan. Kadang masuk ke sebuah gang kecil karena penasaran dengan apa yang ada di baliknya.

Tallinn Old Town memang bukan kawasan tua yang sekadar dipertahankan sebagai latar wisata. Kawasan ini merupakan pusat bersejarah Tallinn yang telah berkembang selama berabad-abad dan masuk daftar Warisan Dunia UNESCO.

Namun yang paling menarik bagi saya justru bukan angka atau sejarahnya.

Melainkan perasaan ketika berdiri di sana.

Sebagai orang Indonesia, saya merasa seperti sedang membaca buku sejarah dengan berjalan kaki.

Setiap sudut seolah mempunyai cerita.


Saya Berhenti Sejenak di Tengah Kota Tua

Image

Setelah cukup lama berjalan, saya memutuskan untuk berhenti.

Salah satu hal yang saya pelajari selama traveling di Estonia adalah tidak semua perjalanan harus dikejar dengan jadwal yang padat.

Saya duduk, melihat orang-orang berlalu-lalang, menikmati suasana, kemudian membiarkan waktu berjalan.

Di Indonesia, saya sering merasa bahwa ketika pergi ke sebuah tempat wisata, harus ada sesuatu yang dilakukan.

Di Tallinn saya justru menikmati ketika tidak melakukan apa-apa.

Hanya duduk.

Hanya melihat.

Hanya menikmati suasana.

Dari tempat saya duduk, kota tua terlihat seperti sebuah panggung besar. Wisatawan datang dan pergi. Ada yang sibuk mengambil foto, ada yang berjalan sambil berbicara, sementara penduduk lokal menjalani aktivitas mereka seperti biasa.

Saya tiba-tiba menyadari sesuatu.

Menjadi traveler bukan berarti harus selalu bergerak.

Kadang perjalanan justru terasa lebih dalam ketika kita berhenti.


Kadriorg Membuat Saya Melihat Sisi Tallinn yang Berbeda

Image

Setelah menikmati kawasan kota tua, perjalanan saya berlanjut ke Kadriorg.

Suasananya langsung terasa berbeda.

Jika Tallinn Old Town membawa saya pada atmosfer abad pertengahan, Kadriorg memberikan ruang yang lebih luas dan tenang.

Saya berjalan melewati kawasan taman, melihat pepohonan dan bangunan bersejarah. Tidak ada dorongan untuk terburu-buru.

Kadriorg Palace dan taman di sekitarnya merupakan salah satu kawasan bersejarah terkenal di Tallinn. Kompleks tersebut berkaitan dengan masa Peter the Great dan hingga kini menjadi salah satu kawasan budaya serta rekreasi penting di kota.

Namun sekali lagi, saya tidak terlalu memikirkan sejarah ketika berada di sana.

Saya lebih menikmati suasananya.

Berjalan.

Berhenti.

Mengambil foto.

Kemudian berjalan lagi.

Mungkin perjalanan memang sesederhana itu.


Estonia Tidak Hanya Tentang Kota Tua

Image

Semakin jauh menjelajahi Estonia, saya mulai memahami bahwa negara ini tidak hanya menarik karena Tallinn.

Ada sisi Estonia yang jauh lebih tenang.

Hutan.

Pesisir.

Jalur perjalanan yang melewati kawasan hijau.

Dan ruang terbuka yang membuat saya merasa jauh dari hiruk-pikuk kota.

Salah satu kawasan yang menarik adalah Lahemaa National Park.

Perjalanan menuju kawasan alam seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda. Pemandangan perlahan berubah. Bangunan perkotaan semakin jarang. Alam mulai mengambil alih pandangan.

Sebagai orang Indonesia, saya tentu tidak asing dengan hutan dan kawasan hijau.

Indonesia bahkan memiliki kekayaan alam yang jauh lebih beragam.

Tetapi alam Estonia memiliki karakter tersendiri.

Lebih sunyi.

Lebih dingin.

Dan terasa sangat lapang.

Saya berjalan sambil sesekali berhenti. Ada saat ketika saya hanya ingin berdiri dan melihat sekeliling.

Tidak ada suara kota.

Tidak ada jadwal yang harus dikejar.

Hanya saya, udara dingin, dan pemandangan yang terbentang di depan mata.


Ada Hal-Hal Kecil yang Justru Paling Saya Ingat

Image

Setelah beberapa waktu berada di Estonia, saya mulai sadar bahwa kenangan perjalanan tidak selalu datang dari tempat-tempat besar.

Kadang justru dari hal sederhana.

Udara dingin di pagi hari.

Langkah kaki di jalan berbatu.

Secangkir minuman hangat setelah berjalan cukup jauh.

Pemandangan dari sebuah sudut jalan.

Image

Senyum seseorang yang tidak saya kenal.

Atau sekadar perjalanan pulang setelah seharian berjalan.

Hal-hal kecil itu mungkin tidak akan masuk dalam daftar “tempat wajib dikunjungi”.

Tetapi justru hal-hal seperti itulah yang biasanya tinggal paling lama dalam ingatan.

Saya datang dari Indonesia dengan bayangan tentang Estonia yang masih samar.

Saya pulang membawa gambaran yang jauh lebih jelas.

Estonia ternyata bukan hanya tentang peta, bangunan tua atau destinasi wisata.

Estonia adalah tentang suasana.


Sebagai Orang Indonesia, Apa yang Paling Berbeda?

Image

Perbedaan terbesar yang saya rasakan bukan semata-mata pada bangunan atau tempat wisatanya.

Melainkan pada ritme kehidupan.

Di Indonesia, kehidupan terasa sangat dinamis.

Kita terbiasa dengan suara kendaraan, percakapan, aktivitas perdagangan dan berbagai kejadian yang bisa muncul hampir setiap saat.

Di Estonia, khususnya ketika berada di kawasan yang lebih tenang, ritmenya terasa berbeda.

Saya seperti diberi kesempatan untuk menarik napas lebih panjang.

Dan ternyata itu menyenangkan.

Perjalanan jauh dari Indonesia membuat saya melihat kebiasaan sehari-hari dari perspektif berbeda.

Hal yang sebelumnya terasa biasa ternyata menjadi sesuatu yang saya rindukan.

Sebaliknya, hal yang sebelumnya terasa asing justru menjadi pengalaman baru yang ingin saya simpan.

Mungkin memang seperti itulah traveling bekerja.

Kita pergi untuk melihat dunia.

Tetapi tanpa sadar, perjalanan itu juga membuat kita melihat diri sendiri.


Ketika Waktunya Pulang

Image

Menjelang akhir perjalanan, saya kembali melihat Tallinn.

Kali ini rasanya berbeda.

Pada awal kedatangan, saya melihat kota ini sebagai tempat asing yang ingin saya kenali.

Kini, setelah berjalan di jalan-jalannya, duduk di sudut kotanya, melihat bangunan tua, menikmati taman dan merasakan udara Baltik, Tallinn terasa seperti sebuah cerita yang sudah mulai saya kenal.

Saya tahu perjalanan ini akan berakhir.

Tetapi justru pada saat seperti itu, saya mulai memahami mengapa orang suka traveling.

Bukan hanya untuk mengatakan bahwa kita pernah datang ke suatu negara.

Bukan sekadar mengumpulkan foto.

Bukan pula tentang berapa banyak tempat yang berhasil kita datangi.

Perjalanan adalah tentang pengalaman yang kita bawa pulang.

Dan Estonia memberi saya satu pelajaran sederhana:

Tidak semua perjalanan harus dilakukan dengan tergesa-gesa.

Kadang kita memang perlu berjalan lebih pelan.

Melihat lebih lama.

Mendengarkan lebih banyak.

Dan memberi kesempatan kepada sebuah tempat untuk memperkenalkan dirinya sendiri.

Bagi saya, Estonia adalah perjalanan seperti itu.

Jauh dari Indonesia, tetapi justru membuat saya semakin menghargai arti pulang.


Estonia, Sebuah Cerita yang Ingin Saya Ulangi

Jika suatu hari ada kesempatan kembali ke kawasan Baltik, Estonia mungkin akan menjadi salah satu negara yang ingin saya datangi lagi.

Bukan karena semua tempat sudah selesai saya jelajahi.

Justru sebaliknya.

Masih banyak sudut yang belum saya lihat.

Masih banyak jalan yang belum saya lewati.

Masih banyak cerita yang belum saya dengar.

Dan mungkin itulah bagian paling indah dari sebuah perjalanan.

Kita tidak pernah benar-benar selesai mengenal sebuah tempat.

Ketika pesawat membawa saya menjauh dari Estonia, saya tahu satu hal:

Saya datang sebagai orang Indonesia yang penasaran dengan sebuah negara kecil di Eropa Utara.

Saya pulang dengan sebuah cerita.

Cerita tentang Tallinn, jalan-jalan batu, udara dingin, taman yang tenang, alam yang luas, dan sebuah perjalanan yang membuat saya belajar untuk tidak selalu terburu-buru.

Estonia sangat jauh dari Indonesia. Tetapi kenangan tentangnya terasa begitu dekat.


By farisi