Jakarta, dejik.com – Mungkin terdengar sepele, tetapi jembut atau bulu kemaluan sebenarnya merupakan bagian alami dari tubuh manusia. Rambut yang tumbuh di sekitar area genital ini bukan sekadar “rambut biasa” dan ternyata memiliki sejumlah fungsi biologis.

Jumlah, ketebalan, warna, hingga bentuknya juga berbeda-beda pada setiap orang. Jadi, tidak ada ukuran atau bentuk tertentu yang bisa disebut sebagai “paling normal”.

Berikut tujuh fakta menarik tentang jembut yang mungkin belum banyak diketahui.

1. Jembut mulai tumbuh ketika memasuki masa pubertas

Bulu kemaluan umumnya mulai muncul ketika seseorang memasuki masa pubertas. Pertumbuhannya berkaitan dengan perubahan hormon, terutama hormon androgen.

Karena itu, keberadaan bulu kemaluan merupakan salah satu perubahan fisik yang umum terjadi ketika tubuh mulai mengalami kematangan seksual.

2. Jembut punya fungsi mengurangi gesekan

Salah satu fungsi penting bulu kemaluan adalah membantu mengurangi gesekan pada kulit di sekitar area genital.

Kulit di area tersebut relatif sensitif. Rambut dapat menjadi semacam lapisan pelindung sehingga gesekan akibat aktivitas fisik, pakaian, maupun aktivitas seksual tidak langsung terjadi antara kulit dengan kulit.

3. Jumlah dan bentuknya sangat bervariasi

Ada orang yang memiliki bulu kemaluan cukup lebat, sementara yang lain relatif tipis. Teksturnya juga bisa lurus, bergelombang atau keriting.

Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, usia, hormon dan karakteristik tubuh masing-masing. Jadi, membandingkan bentuk atau ketebalan bulu kemaluan dengan orang lain sebenarnya tidak terlalu bermakna secara medis.

4. Jembut bukan tanda seseorang jorok

Ini salah satu mitos yang cukup populer.

Memiliki bulu kemaluan bukan berarti seseorang tidak menjaga kebersihan. Rambut memang dapat menahan keringat, minyak dan bakteri, tetapi kebersihan lebih ditentukan oleh bagaimana seseorang merawat area tubuh tersebut.

ACOG juga menegaskan bahwa tidak ada alasan medis yang mengharuskan seseorang menghilangkan bulu kemaluan.

5. Mencukur bukan berarti selalu lebih sehat

Menghilangkan bulu kemaluan merupakan pilihan pribadi. Namun, mencukur atau melakukan waxing juga memiliki risiko seperti iritasi kulit, luka kecil, rambut tumbuh ke dalam dan peradangan folikel.

Karena itu, jika seseorang memilih untuk mencukur, faktor terpenting adalah menjaga kebersihan dan menghindari teknik yang dapat melukai kulit.

6. Rambut kemaluan berhubungan dengan kelenjar di area tersebut

Area kemaluan memiliki folikel rambut dan berbagai kelenjar kulit. Salah satunya adalah kelenjar apokrin, yang juga terdapat di area seperti ketiak.

Kelenjar ini menghasilkan sekresi yang dapat berkontribusi terhadap bau tubuh ketika berinteraksi dengan bakteri di permukaan kulit. Jadi, bau di area genital bukan semata-mata disebabkan oleh keberadaan rambut.

7. Tidak ada kewajiban untuk mencukur habis

Mau dibiarkan tumbuh, dipangkas, atau dihilangkan sepenuhnya merupakan pilihan masing-masing.

Secara medis, tidak ada kewajiban untuk mencukur bulu kemaluan sampai habis. Yang lebih penting adalah menjaga kebersihan kulit dan memperhatikan apabila muncul gejala tidak biasa seperti rasa gatal yang menetap, luka, benjolan yang menyakitkan, ruam atau kerontokan rambut yang tiba-tiba.

Jadi, Apa Kesimpulannya?

Jembut mungkin sering menjadi bahan candaan sehari-hari, tetapi secara biologis keberadaannya cukup menarik. Bulu kemaluan merupakan bagian normal dari tubuh manusia yang dapat membantu melindungi kulit dan mengurangi gesekan.

Yang juga penting, tidak ada standar tunggal mengenai seberapa lebat, panjang atau keriting bulu kemaluan seseorang. Selama tidak disertai keluhan kesehatan tertentu, variasi tersebut umumnya merupakan bagian normal dari perbedaan tubuh manusia.

By Irisha