Jakarta, dejikcom – Saya berangkat dari Jakarta pagi itu dengan satu pikiran sederhana: kali ini saya ingin melihat Jogja dengan cara yang berbeda.
Saya sudah beberapa kali mendengar cerita tentang Malioboro, Keraton, Gudeg, dan berbagai tempat wisata yang hampir selalu masuk daftar perjalanan ke Yogyakarta. Semua tempat itu tentu menarik.
Tetapi kali ini saya tidak terlalu tertarik mengejar tempat-tempat yang sudah sering saya lihat di media sosial.
Saya ingin berjalan lebih pelan.
Saya ingin masuk ke tempat yang mungkin tidak terlalu ramai, duduk lebih lama, melihat kehidupan warga, dan kalau memungkinkan, menemukan sisi Jogja yang jarang saya temui dalam perjalanan sebelumnya.
Pesawat membawa saya dari Jakarta menuju Yogyakarta International Airport.
Begitu pesawat mulai turun, dari balik jendela saya melihat hamparan hijau di bawah sana. Pemandangannya perlahan berubah dari kepadatan kota menjadi sawah dan perbukitan.
Saya tahu, perjalanan saya ke Jogja benar-benar dimulai.
Begitu tiba di bandara, saya mengambil koper dan langsung menuju kendaraan yang sudah menunggu.
Perjalanan menuju hotel cukup panjang. Tetapi anehnya, saya tidak merasa bosan.
Mungkin karena setelah sekian lama melihat jalanan Jakarta yang padat, perjalanan melewati jalan-jalan di Yogyakarta terasa seperti perubahan suasana yang saya butuhkan.
Setelah sampai di hotel dan meletakkan koper, saya tidak langsung beristirahat.
Saya mandi sebentar, mengambil kamera, lalu keluar lagi.
Destinasi pertama saya adalah Kotagede.
Sore Pertama: Saya Sengaja Tersesat di Kotagede
Saya tiba di Kotagede menjelang sore.
Awalnya saya hanya ingin melihat kawasan yang terkenal dengan kerajinan peraknya.
Namun begitu mulai berjalan kaki, perhatian saya justru tertuju pada gang-gang kecil dan rumah-rumah lama di sepanjang jalan.
Saya kemudian berjalan tanpa tujuan yang terlalu jelas.
Masuk ke sebuah gang.
Keluar di jalan lain.

Berhenti sebentar.
Kemudian berjalan lagi.
Ada rumah dengan pintu kayu tua. Ada toko kecil. Ada pengrajin yang sedang bekerja. Ada warga yang duduk di depan rumah.
Suasananya sederhana.
Tetapi justru itu yang saya cari.
Saya merasa sedang melihat Jogja yang berbeda.
Bukan Jogja yang sibuk dengan wisatawan, melainkan Jogja yang hidup seperti biasanya.
Saya sempat masuk ke sebuah toko kerajinan dan melihat berbagai perhiasan perak.
Akhirnya saya membeli sebuah cendera mata kecil.
Bukan barang mahal.
Tetapi setiap kali melihatnya nanti, saya tahu saya akan teringat pada sore ketika saya berjalan tanpa tujuan di gang-gang Kotagede.
Hari mulai gelap.
Saya kemudian mencari tempat makan.
Malam itu saya kembali ke hotel dengan kaki yang cukup lelah.
Tetapi kepala saya justru terasa lebih ringan.
Pagi Berikutnya: Menemukan Sisi Kampung di Bendhung Lepen
Pagi berikutnya saya bangun lebih awal.
Saya membuka jendela kamar hotel dan melihat suasana kota yang belum terlalu ramai.
Setelah sarapan, saya kembali keluar.
Kali ini saya menuju Bendhung Lepen.

Sejujurnya, tempat ini bukan tujuan yang sejak awal ada dalam daftar perjalanan saya.
Saya justru tertarik karena mendengar cerita tentang sebuah kawasan kampung yang memanfaatkan aliran air sebagai ruang wisata.
Ketika sampai, saya langsung menyadari bahwa tempat ini berbeda dengan objek wisata pada umumnya.
Tidak ada kemewahan.
Tidak ada bangunan besar.
Yang saya lihat justru lingkungan kampung, aliran air, ikan dan aktivitas warga.
Saya berjalan perlahan di sekitar kawasan tersebut.
Beberapa anak terlihat menikmati suasana sekitar. Warga menjalankan aktivitas sehari-hari.
Saya kemudian duduk sebentar.
Dan sekali lagi saya berpikir bahwa perjalanan tidak selalu harus membawa kita ke tempat yang spektakuler.
Kadang justru tempat sederhana seperti ini yang membuat kita merasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Di Jakarta, saya jarang punya kesempatan untuk duduk santai melihat aliran air di tengah kampung.
Di sini, saya bisa melakukannya.
Mengejar Matahari Pagi di Jurang Tembelan
Hari berikutnya saya memasang alarm lebih pagi.
Kali ini saya harus berangkat sebelum matahari terbit.
Tujuannya adalah Jurang Tembelan di kawasan Mangunan.
Jam menunjukkan waktu yang masih sangat pagi ketika saya meninggalkan hotel.
Jalanan belum ramai.
Udara juga terasa berbeda.
Semakin jauh perjalanan, semakin banyak pepohonan dan perbukitan yang saya lihat.
Ketika akhirnya tiba, matahari belum muncul sepenuhnya.
Saya berjalan menuju area pandang.
Dan kemudian saya melihat sesuatu yang membuat perjalanan pagi itu terasa layak.
Kabut memenuhi lembah.
Perbukitan terlihat samar di kejauhan.
Langit perlahan berubah warna.
Saya berdiri cukup lama di sana.
Kamera sebenarnya sudah berada di tangan.
Tetapi beberapa saat saya memilih tidak mengambil gambar.
Saya hanya melihat.
Ada pengalaman yang rasanya kurang lengkap kalau hanya dinikmati melalui layar kamera.
Pemandangan pagi itu menjadi salah satunya.
Saya kemudian mengambil beberapa foto sebelum akhirnya duduk menikmati udara pagi.
Saat itulah saya teringat Jakarta.
Di sana, pagi sering kali berarti kemacetan, suara kendaraan dan terburu-buru mengejar waktu.
Di tempat ini, pagi terasa sangat berbeda.
Tenang.
Pelan.
Dan jauh lebih sunyi.
Perjalanan Panjang Menuju Kalibiru
Setelah menikmati Mangunan, perjalanan saya berlanjut ke Kulon Progo.
Jaraknya cukup jauh.
Tetapi saya justru menikmati perjalanan tersebut.
Saya melihat perubahan pemandangan sepanjang jalan.
Kawasan perkotaan perlahan berganti dengan jalan yang lebih sepi, pepohonan dan perbukitan.
Tujuan saya adalah Kalibiru.

Begitu tiba, saya langsung mencari tempat untuk melihat panorama dari ketinggian.
Dan sekali lagi saya mendapatkan pemandangan yang berbeda.
Perbukitan terbentang di depan mata.
Di kejauhan terlihat Waduk Sermo.
Saya berdiri di salah satu titik pandang dan mengambil beberapa foto.
Tetapi setelah beberapa menit, saya kembali menyimpan kamera.
Saya ingin menikmati pemandangan itu tanpa melalui layar.
Sebagai orang yang tinggal di Jakarta, pemandangan seperti ini terasa sangat menyegarkan.
Tidak ada gedung tinggi.
Tidak ada suara klakson.
Tidak ada orang yang terburu-buru.
Hanya perbukitan, pepohonan dan udara yang lebih sejuk.
Saya kemudian sadar bahwa mungkin inilah yang sebenarnya saya cari sejak berangkat dari Jakarta.
Bukan sekadar tempat wisata.
Tetapi ruang untuk berhenti sejenak.
Jalan Kaki Menuju Kedung Kandang
Perjalanan berikutnya membawa saya ke Gunungkidul.
Saya menuju kawasan Nglanggeran.
Kali ini saya tidak bisa hanya turun dari kendaraan lalu mengambil foto.
Saya harus berjalan kaki menuju Kedung Kandang.
Awalnya saya menganggap perjalanan itu cukup mudah.
Tetapi setelah beberapa menit berjalan, saya mulai merasakan kaki bekerja lebih keras.
Saya melewati jalan setapak dan area persawahan.

Suasana semakin sepi.
Suara kendaraan semakin tidak terdengar.
Kemudian saya mulai mendengar suara air.
Saya mempercepat langkah.
Tidak lama kemudian, saya melihat aliran air yang melewati bebatuan.
Kedung Kandang akhirnya terlihat di depan mata.
Saya berdiri cukup lama di sana.
Air mengalir melewati bebatuan sementara pepohonan hijau mengelilingi kawasan tersebut.
Saya kemudian duduk.
Tidak melakukan apa-apa.
Hanya mendengarkan suara air.
Momen seperti ini mungkin terlihat sederhana.
Tetapi justru momen seperti inilah yang biasanya paling lama tinggal di ingatan.
Malam Terakhir di Jogja
Malam terakhir tiba lebih cepat dari yang saya bayangkan.
Saya kembali ke hotel dengan badan lelah.
Koper mulai penuh dengan pakaian, oleh-oleh dan beberapa barang kecil yang saya beli sepanjang perjalanan.
Saya kemudian keluar sebentar untuk mencari makan.
Di sebuah warung, saya duduk sendirian sambil menikmati makan malam.
Saya mulai mengingat perjalanan beberapa hari terakhir.
Kotagede.
Bendhung Lepen.
Jurang Tembelan.
Kalibiru.
Kedung Kandang.
Lima tempat yang memberikan pengalaman berbeda.
Saya datang ke Jogja dengan niat mencari hidden gem.
Tetapi kemudian saya sadar bahwa istilah hidden gem sebenarnya bukan hanya soal tempat yang tersembunyi.
Kadang sebuah tempat menjadi istimewa karena kita datang pada waktu yang tepat.
Kadang karena kita tidak terburu-buru.
Kadang karena kita mau berjalan sedikit lebih jauh.
Dan kadang karena kita bersedia keluar dari rute yang biasanya dipilih wisatawan.
Kembali ke Jakarta
Pagi berikutnya saya kembali menuju bandara.
Di dalam kendaraan, saya melihat pemandangan Jogja perlahan bergerak menjauh.
Saya tahu perjalanan sudah selesai.
Tetapi ada perasaan aneh yang muncul.
Saya belum benar-benar ingin pulang.
Sesampainya di bandara, saya mengambil koper dan menunggu penerbangan menuju Jakarta.
Beberapa jam kemudian, suasana kembali berubah.
Gedung-gedung mulai terlihat.
Jalanan semakin padat.
Suara kendaraan kembali terdengar.
Saya kembali ke Jakarta.
Tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Saya membawa pulang lebih dari sekadar foto.
Saya membawa beberapa potongan suasana Jogja: gang kecil Kotagede, kabut pagi Mangunan, perbukitan Kulon Progo, suara air Kedung Kandang dan kehidupan sederhana di kampung.
Mungkin itulah alasan saya selalu merasa Jogja berbeda.
Kota ini tidak selalu meminta kita untuk datang dengan daftar tempat yang panjang.
Kadang Jogja hanya meminta kita untuk berjalan lebih pelan.
Dan ketika kita bersedia melakukannya, selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak kita cari.
Saya datang ke Jogja untuk mencari hidden gem.Saya pulang dengan keinginan untuk kembali.