Bern – dejikcom, Ada negara yang indah karena satu atau dua tempat wisatanya. Tetapi Swiss terasa berbeda. Di negeri ini, bahkan perjalanan dari satu kota ke kota lain bisa menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Pegunungan Alpen muncul di balik jendela kereta, danau berwarna biru kehijauan membentang di antara kota-kota kecil, sementara rumah-rumah bergaya Eropa berdiri rapi seperti potongan kartu pos.

Untuk perjalanan tujuh hari, saya memilih rute yang relatif efisien: Jakarta (CGK) โ€“ Doha (DOH) โ€“ Geneva (GVA), kemudian bergerak menggunakan kereta menuju Lausanne, Montreux, Interlaken, Jungfraujoch, Lucerne dan berakhir di Zurich.

Qatar Airways memang memiliki konektivitas dari Jakarta melalui Doha dan jaringan penerbangan yang mencakup Geneva. Jadwal penerbangan dapat berubah, sehingga nomor penerbangan dan jam keberangkatan sebaiknya dicek kembali saat pemesanan.


Hari 1 – Jakarta, Doha, lalu Geneva: Ketika Swiss Akhirnya Terlihat dari Jendela Pesawat

Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK).

Dengan Qatar Airways, perjalanan menuju Swiss dilakukan melalui Hamad International Airport, Doha. Salah satu keuntungan memilih rute ini adalah konektivitas Qatar Airways dari Jakarta yang cukup kuat; maskapai tersebut saat ini menyebutkan operasinya dari Jakarta ke berbagai destinasi dunia melalui jaringan Doha.

Setelah transit di Doha, perjalanan dilanjutkan menuju Geneva Airport (GVA).

Image

Begitu tiba di Geneva, jangan langsung memaksakan diri mengejar terlalu banyak tempat. Setelah penerbangan panjang dari Indonesia, hari pertama sebaiknya digunakan untuk beradaptasi.

Sore hari cukup berjalan santai di sekitar Lake Geneva dan melihat ikon kota, Jet d’Eau.

Air mancur raksasa ini menjadi salah satu simbol Geneva. Berdiri di tepi danau, dengan latar pegunungan dan perahu-perahu yang melintas, suasananya langsung memberi tanda: perjalanan Swiss benar-benar dimulai.

Malam pertama menginap di Geneva.

Catatan traveler: kalau tubuh masih lelah akibat perjalanan panjang, jangan merasa bersalah untuk tidur lebih cepat. Swiss tidak akan ke mana-mana.


Hari 2 – Geneva dan Lausanne: Menyusuri Danau Geneva

Pagi hari dimulai dengan sarapan sederhana. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan kereta menuju Lausanne.

Lausanne merupakan kota yang menarik karena lokasinya berada di antara perbukitan, kawasan perkotaan dan Lake Geneva. Kawasan Ouchy di tepi danau sangat cocok untuk berjalan santai.

Image

Di Ouchy, saya memilih berjalan kaki menyusuri tepian danau.

Tidak ada yang perlu dikejar.

Justru di sinilah daya tarik Swiss terasa. Duduk sebentar di tepi danau, melihat kapal bergerak perlahan, lalu memandang pegunungan Alpen di kejauhan.

Lausanne Tourism sendiri menggambarkan kawasan Ouchy sebagai area tepi danau dengan promenade, taman, bangunan bersejarah serta akses kapal menuju berbagai pelabuhan di sekitar Lake Geneva.

Jika masih memiliki energi, bisa mengunjungi Olympic Museum atau berjalan menuju kawasan kota tua Lausanne.

Menjelang sore, perjalanan dilanjutkan menuju Montreux.


Hari 2 Sore – Montreux dan Chรขteau de Chillon

Montreux adalah salah satu kota yang membuat perjalanan di sekitar Lake Geneva terasa seperti adegan film.

Image

Salah satu tempat yang wajib masuk daftar adalah Chรขteau de Chillon.

Kastel abad pertengahan ini berdiri tepat di tepi danau. Dinding batu, menara, air dan pegunungan menciptakan kombinasi yang sulit ditemukan di tempat lain.

Berjalan di sekitar kastel menjelang sore adalah pengalaman yang menyenangkan. Cahaya matahari mulai lembut, permukaan danau berubah warna, sementara pegunungan terlihat semakin dramatis.

Setelah puas menikmati Montreux, kembali ke penginapan dan beristirahat.

Menginap: Montreux atau Lausanne.


Hari 3 – Menuju Interlaken: Swiss Mulai Terasa Seperti Negeri Dongeng

Hari ketiga menjadi titik perubahan suasana.

Dari kawasan Lake Geneva, perjalanan bergerak menuju Interlaken, salah satu basis terbaik untuk menjelajahi kawasan Bernese Oberland.

Image

Begitu tiba di Interlaken, pemandangan berubah total.

Danau, padang rumput dan pegunungan mulai mendominasi pandangan. Jika cuaca cerah, naik ke Harder Kulm bisa menjadi pilihan yang sangat menarik.

Harder Kulm berada sekitar 1.322 meter di atas Interlaken dan menawarkan panorama ke kawasan danau serta Pegunungan Alpen Bernese. Akses dari Interlaken juga relatif mudah menggunakan funicular.

Dari atas, kita bisa memahami mengapa Interlaken menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan.

Dua danau, lembah hijau dan gunung-gunung bersalju terlihat dalam satu panorama.

Sore hari kembali ke pusat Interlaken.

Nikmati makan malam dengan menu khas Swiss. Jangan lupa mencoba raclette atau fondue jika belum pernah.

Menginap: Interlaken.


Hari 4 – Jungfraujoch: Menyentuh Salju di Atap Eropa

Hari keempat adalah salah satu hari yang paling ditunggu.

Tujuannya adalah Jungfraujoch โ€“ Top of Europe.

Image

Perjalanan menuju kawasan Jungfrau sendiri sudah menjadi pengalaman.

Kereta membawa kita melewati lanskap pegunungan yang semakin tinggi. Perlahan rumah-rumah dan lembah hijau berganti menjadi tebing, batu dan salju.

Di Jungfraujoch, suasananya benar-benar berbeda.

Udara dingin, salju, pegunungan dan hamparan es menciptakan pengalaman yang terasa jauh dari Indonesia.

Jungfrau Tourism menyebut kawasan Jungfrau sebagai dunia pegunungan Alpen dengan kombinasi es, salju dan batu, termasuk Jungfraujoch sebagai salah satu atraksi utamanya.

Di sini, jangan hanya sibuk mengambil foto.

Cobalah berhenti beberapa menit.

Tarik napas.

Lihat sekeliling.

Ada momen ketika perjalanan tidak lagi terasa seperti sekadar liburan, tetapi seperti kesempatan untuk menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri sendiri.

Setelah puas, kembali menuju Interlaken.

Menginap: Interlaken.


Hari 5 – Lauterbrunnen: Lembah yang Terlihat Seperti Lukisan

Hari kelima bisa digunakan untuk menjelajahi Lauterbrunnen.

Dari Interlaken, perjalanan menuju desa ini tidak membutuhkan waktu terlalu lama.

Image

Lauterbrunnen mungkin merupakan salah satu tempat paling fotogenik dalam perjalanan ini.

Lembah hijau dikelilingi tebing tinggi, rumah-rumah khas Swiss berdiri di antara padang rumput, dan air terjun jatuh dari dinding pegunungan.

Kawasan ini dikenal memiliki puluhan air terjun dan menjadi salah satu lanskap ikonik di wilayah Jungfrau.

Di sini saya tidak membuat itinerary terlalu padat.

Berjalan kaki saja.

Melewati jalan kecil, melihat rumah-rumah, menikmati udara pegunungan dan sesekali berhenti untuk memotret.

Jika masih punya waktu, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Grindelwald atau kembali ke Interlaken.

Namun untuk itinerary tujuh hari, saya lebih menyukai ritme santai.

Sore hari kembali ke Interlaken, lalu bersiap meninggalkan kawasan Alpen pada hari berikutnya.


Hari 6 – Interlaken ke Lucerne: Kota Cantik di Tepi Danau

Pagi hari kereta membawa perjalanan menuju Lucerne.

Jika Interlaken memberikan pengalaman pegunungan, Lucerne menawarkan kombinasi antara kota tua, danau dan arsitektur klasik.

Image

Tempat pertama yang harus dicari adalah Chapel Bridge atau Kapellbrรผcke.

Jembatan kayu beratap ini menjadi salah satu landmark paling terkenal di Lucerne. Di dekatnya berdiri Wasserturm, menara batu yang menjadi bagian dari sistem pertahanan kota pada masa lalu.

Berjalan melintasi jembatan sambil melihat Sungai Reuss terasa sangat menyenangkan.

Setelah itu, lanjutkan perjalanan ke kawasan kota tua.

Bangunan-bangunan tua dengan fasad berwarna-warni membuat Lucerne sangat mudah disukai.

Jika waktu memungkinkan, bisa menikmati pemandangan Lake Lucerne dengan kapal atau sekadar duduk di tepi danau.

Malamnya, nikmati suasana kota yang mulai tenang.

Menginap: Lucerne.


Hari 7 – Lucerne, Zurich, dan Pulang ke Indonesia

Hari terakhir jangan dibuat terlalu berat.

Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju Zurich.

Image

Berjalanlah di kawasan Old Town, menyusuri Sungai Limmat dan menikmati arsitektur kota.

Zurich memberikan penutup yang berbeda dibanding destinasi sebelumnya. Kalau Interlaken terasa seperti dunia pegunungan dan Lucerne seperti kota dalam dongeng, Zurich terasa lebih modern dan kosmopolitan.

Setelah makan siang, waktunya menuju bandara untuk penerbangan pulang.

Perjalanan kembali mengikuti rute Zurich โ€“ Doha โ€“ Jakarta, menyesuaikan tiket dan jadwal Qatar Airways yang tersedia pada tanggal perjalanan.

Dan di sinilah biasanya muncul perasaan aneh yang sering dialami traveler.

Ada rasa senang karena berhasil menjelajahi Swiss.

Tetapi juga ada sedikit rasa berat karena perjalanan harus berakhir.


Itinerary Switzerland 7 Hari Singkat

HariRuteHighlightMenginap
1Jakarta โ€“ Doha โ€“ GenevaJet d’Eau, Lake GenevaGeneva
2Geneva โ€“ Lausanne โ€“ MontreuxOuchy, Lake Geneva, Chรขteau de ChillonMontreux/Lausanne
3Montreux โ€“ InterlakenHarder Kulm, panorama AlpenInterlaken
4Interlaken โ€“ JungfraujochSalju, Top of EuropeInterlaken
5Interlaken โ€“ LauterbrunnenLembah, air terjun, AlpenInterlaken
6Interlaken โ€“ LucerneChapel Bridge, kota tuaLucerne
7Lucerne โ€“ Zurich โ€“ Doha โ€“ JakartaOld Town ZurichPesawat

Mengapa rute ini menarik?

Menurut saya, itinerary ini cocok untuk first-time traveler ke Switzerland karena dalam tujuh hari kita mendapatkan kombinasi yang cukup lengkap:

kota + danau + kastel + desa Alpen + pegunungan + salju + kereta + kuliner Swiss.

Yang paling penting, rute ini tidak memaksa kita pindah hotel setiap malam. Interlaken dijadikan basis selama beberapa hari sehingga perjalanan terasa lebih santai.

Dan ada satu pelajaran yang selalu saya dapat dari perjalanan ke Swiss:

Jangan terlalu sibuk mengejar tempat wisata.

Karena di Swiss, perjalanan menuju tempat wisata itu sendiri sering kali justru menjadi bagian paling indah.

Duduk di dalam kereta, melihat padang rumput lewat dari balik jendela, menyaksikan pegunungan perlahan muncul di kejauhanโ€”kadang pengalaman seperti itu jauh lebih membekas daripada sekadar mencentang daftar destinasi.

Catatan: jadwal kereta, penerbangan, harga tiket, jam operasional objek wisata dan kondisi pegunungan dapat berubah menurut musim. Untuk penerbangan dari Jakarta dan koneksi menuju Geneva, cek kembali jadwal terbaru sebelum membeli tiket.

By farisi