Micin atau monosodium glutamate (MSG) sudah sangat akrab di dapur masyarakat Indonesia. Bumbu berbentuk kristal putih ini kerap ditambahkan ke berbagai masakan untuk membuat rasa gurih semakin kuat.

Namun, di balik popularitasnya, ternyata ada sejumlah fakta menarik tentang micin yang belum tentu diketahui banyak orang. Mulai dari sejarah penemuannya, kandungannya, hingga alasan makanan terasa lebih gurih setelah ditambahkan MSG.

Berikut 7 fakta menarik tentang micin yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Micin adalah nama populer untuk MSG

Micin sebenarnya merupakan sebutan yang sangat populer di Indonesia untuk monosodium glutamate (MSG).

Secara kimia, MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat, salah satu jenis asam amino yang secara alami terdapat dalam tubuh dan berbagai makanan. FDA juga mencatat monosodium glutamate sebagai bahan yang digunakan antara lain sebagai flavor enhancer atau penguat rasa.

Jadi, micin bukan sekadar “bubuk penyedap”, tetapi merupakan senyawa yang berperan dalam menghasilkan rasa gurih atau umami.

2. Micin berkaitan dengan rasa kelima: umami

Manusia umumnya mengenal rasa manis, asin, asam, dan pahit. Selain keempat rasa tersebut, ada rasa kelima yang disebut umami.

Rasa umami memberikan sensasi gurih dan sedap pada makanan. Glutamat merupakan salah satu senyawa yang berperan dalam menghasilkan sensasi tersebut. MSG memberikan glutamat dalam bentuk yang dapat merangsang reseptor rasa umami.

Itulah sebabnya sedikit micin dapat membuat kuah, tumisan, sup, atau makanan lainnya terasa lebih “nendang”.

3. Sejarah micin bermula dari Jepang

Kisah micin modern bermula di Jepang pada 1908.

Ahli biokimia Jepang, Kikunae Ikeda, tertarik dengan rasa gurih yang muncul dari kaldu rumput laut kombu. Ia kemudian meneliti kandungan kaldu tersebut dan menemukan glutamat sebagai senyawa yang menghasilkan sensasi gurih.

Penemuan tersebut menjadi awal pengembangan bumbu umami yang kemudian dikenal luas sebagai MSG. Produk komersialnya mulai dipasarkan di Jepang pada awal abad ke-20.

Image

4. Glutamat juga ada secara alami dalam makanan

Fakta yang sering mengejutkan adalah glutamat bukan hanya terdapat dalam MSG.

Glutamat secara alami ditemukan dalam berbagai bahan makanan, termasuk daging, ikan, telur, produk susu, tomat, jagung, dan sejumlah bahan nabati lainnya. Tubuh manusia sendiri juga menghasilkan glutamat.

Dengan kata lain, istilah “glutamat” tidak otomatis berarti bahan sintetis atau sesuatu yang hanya berasal dari micin.

5. Micin modern dibuat melalui proses fermentasi

Ada anggapan bahwa MSG dibuat dari bahan kimia yang sangat berbeda dari makanan sehari-hari. Padahal, produksi MSG modern pada sejumlah produsen dilakukan melalui proses fermentasi.

Bahan nabati seperti tebu, bit gula, singkong, atau jagung dapat digunakan sebagai bahan baku. Mikroorganisme kemudian membantu menghasilkan asam glutamat, yang selanjutnya diproses hingga menjadi kristal MSG.

Prosesnya memiliki kemiripan prinsip dengan berbagai proses fermentasi yang sudah lama digunakan dalam industri pangan.

6. Micin tidak sama dengan garam dapur

Micin dan garam dapur sama-sama mengandung natrium, tetapi keduanya merupakan senyawa yang berbeda.

Garam dapur terutama berupa natrium klorida, sedangkan MSG adalah monosodium glutamate. Karena MSG menghasilkan rasa umami, penggunaannya dapat membantu meningkatkan cita rasa makanan.

Ajinomoto menyebut MSG memiliki sekitar sepertiga kandungan natrium dibandingkan garam meja berdasarkan berat, sehingga dalam formulasi tertentu MSG dapat digunakan sebagai bagian dari strategi mengurangi penggunaan garam sambil mempertahankan cita rasa.

Namun, bukan berarti micin boleh dikonsumsi tanpa batas. Penggunaan bumbu tetap perlu disesuaikan dengan keseluruhan pola makan dan jumlah natrium yang dikonsumsi.

7. Nama “micin” bahkan menjadi bagian dari bahasa pergaulan

Ini fakta yang cukup unik.

Di Indonesia, kata “micin” tidak hanya digunakan untuk menyebut MSG. Dalam bahasa pergaulan di internet, “kebanyakan micin” pernah digunakan sebagai candaan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap melakukan hal aneh atau kurang masuk akal.

Ungkapan tersebut sebenarnya hanyalah bagian dari humor populer dan tidak boleh dianggap sebagai fakta ilmiah bahwa micin menyebabkan seseorang menjadi “bodoh”. Klaim-klaim semacam itu telah lama menjadi bagian dari mitos seputar MSG.

Jadi, apa sebenarnya yang menarik dari micin?

Micin ternyata memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan penemuan rasa umami. Dari penelitian terhadap kaldu rumput laut di Jepang lebih dari satu abad lalu, MSG kemudian berkembang menjadi salah satu penyedap rasa yang digunakan di berbagai belahan dunia.

Yang juga menarik, glutamat bukan hanya ditemukan dalam MSG, tetapi secara alami terdapat dalam banyak makanan dan juga diproses oleh tubuh.

Karena itu, membicarakan micin sebaiknya tidak berhenti pada mitos “bikin bodoh” atau “bikin sakit”, tetapi melihatnya berdasarkan fakta mengenai kandungan, penggunaan, dan pola konsumsi secara keseluruhan. FDA mencatat MSG sebagai bahan pangan dengan fungsi antara lain sebagai penguat rasa.


By Irisha

Leave a Reply